Oleh : Posma Siahaan
Posma Siahaan
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/posmasiahaan/berapa-banyakkah-dokter-protes-baru-didengar_56d2cc86dc22bd5a1bec047a
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/posmasiahaan/berapa-banyakkah-dokter-protes-baru-didengar_56d2cc86dc22bd5a1bec047a
Posma Siahaan
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/posmasiahaan/berapa-banyakkah-dokter-protes-baru-didengar_56d2cc86dc22bd5a1bec047a
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/posmasiahaan/berapa-banyakkah-dokter-protes-baru-didengar_56d2cc86dc22bd5a1bec047a
Besok, akan ada belasan, puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan dokter dan calon dokter yang menyampaikan aspirasi berkaitan dengan berbagai kekurangan program JKN selama lebih 2 tahun. Rencananya akan mulai dari Bundaran HI sampai istana negara. Protes yang akan disampaikan mulai dari berbagai kekurangan di pembiayaan, keselamatan pasien, mahalnya biaya kesehatan sampai pelecehan profesi dokter.
Aksi ini diprakarsai oleh Dokter Indonesia Bersatu (DIB), sebuah organisasi dokter-dokter yang tidak menjadi saingan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), bukan pula organisasi sayap IDI, tetapi hanya berniat lebih vokal menyuarakan kepentingan profesi dokter yang mulai menurun pengakuannya di mata masyarakat. IDI sebagai satu-satunya wadah profesi dokter yang diakui undang-undang pasti memiliki perhatian yang sama dengan DIB, namun penyampaian aspirasinya harus melalui rapat kerja formal dengan instansi terkait dan beradu argumenlah disana.
Biasanya adu argumentasi ini menguntungkan IDI kalau ada peristiwa luar biasa yang membuat para birokrat dan politikus merasa penting memihak aspirasi dokter, sebaliknya aspirasi tersebut hambar kalau tidak ada peristiwa luar biasa di bidang kesehatan dan menyangkut profesi dokter. Kalau aspirasi tersebut terkesan lebih menguntungkan dokter tetapi kurang berkenan di masyarakat banyak, biasanya langsung tidak disetujui atau versi lunaknya akan dibahas lain waktu.
Peserta rapat biasanya beberapa orang pengurus saja. Sementara itu, DIB karena susah mendapatkan 'akses' melalui birokrat dan politisi harus membuat sejenis demonstrasi yang damai (dokter akan tidak elok kalau demonstrasinya anarkis) dengan peserta yang seramai mungkin, baru ada jalan didengarkan protesnya dan baru perwakilannya diajak bicara. Atau kalau media banyak meliput. Heboh dulu, baru diajak bicara. Saya pribadi memilih protes, membuat 'curhat' atau edukasi ke masyarakat melalui berbagai media sosial seperti 'facebook' dan tentu saja Kompasiana, karena kelihatannya beberapa tulisan saya yang menyoroti beberapa masalah BPJS di lapangan, walau pelan namun tampaknya ada tanggapan.
Mungkin bukan karena tulisan saya semata, tetapi minimal saya cukup puas sudah menyampaikan aspirasi dan merasa sudah ada tanggapan. Apapun caranya, dokter tetap berhak menyampaikan aspirasinya lewat berbagai jalur, namun sebaiknya memperhatikan beberapa hal berikut:
1. Jangan terkesan meminta pihak berwenang memihak dokter daripada masyarakat.
2. Jangan terkesan ditunggangi kepentingan politik tertentu.
3. Sebaiknya pelayanan di fasilitas kesehatan tetap dijalankan, ada dokter pengganti.
4. Sebaiknya instansi tempat bekerja tidak keberatan kalau si dokter ikut demonstrasi walaupun tidak memerintahkan. Kalau dilarang dan diancam hukuman, sebaiknya dipikirkan lagi.
5. Yakin akan apa yang didemonstrasikan, jangan hanya ikut-ikutan dan fokus pada aspirasi awal, jangan mau terprovokasi dengan isu-isu baru diluar kesepakatan awal yang disisipkan saat orasi demonstrasi.
6. Walaupun nanti demonstrasinya berhasil membuat perubahan ke arah perbaikan, sebaiknya semua dokter tetap memilih jalur diplomasi yang lebih efisien, jangan selalu memakai cara demo untuk memecahkan kebuntuan.
Bagi teman sejawat yang akan berjuang besok, saya mendoakan yang terbaik bagi semuanya. Jangan lupa sarapan, jangan sedih kalau kami tidak di sisi kalian berjuang, karena banyak yang terkendala ijin mengingat besok hari Senin, hari banyak-banyaknya pasien.
Sumber : http://www.kompasiana.com/posmasiahaan/berapa-banyakkah-dokter-protes-baru-didengar_56d2cc86dc22bd5a1bec047a
Besok, akan ada
belasan, puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan dokter dan calon dokter
yang menyampaikan aspirasi berkaitan dengan berbagai kekurangan program
JKN selama lebih 2 tahun.
Rencananya akan mulai dari Bundaran HI sampai istana negara. Protes yang
akan disampaikan mulai dari berbagai kekurangan di pembiayaan,
keselamatan pasien, mahalnya biaya kesehatan sampai pelecehan profesi
dokter.
Aksi ini diprakarsai oleh Dokter Indonesia Bersatu (DIB), sebuah
organisasi dokter-dokter yang tidak menjadi saingan Ikatan Dokter
Indonesia (IDI), bukan pula organisasi sayap IDI, tetapi hanya berniat
lebih vokal menyuarakan kepentingan profesi dokter yang mulai menurun
pengakuannya di mata masyarakat.
IDI sebagai satu-satunya wadah profesi dokter yang diakui undang-undang
pasti memiliki perhatian yang sama dengan DIB, namun penyampaian
aspirasinya harus melalui rapat kerja formal dengan instansi terkait dan
beradu argumenlah disana. Biasanya adu argumentasi ini menguntungkan
IDI kalau ada peristiwa luar biasa yang membuat para birokrat dan
politikus merasa penting memihak aspirasi dokter, sebaliknya aspirasi
tersebut hambar kalau tidak ada peristiwa luar biasa di bidang kesehatan
dan menyangkut profesi dokter. Kalau aspirasi tersebut terkesan lebih
menguntungkan dokter tetapi kurang berkenan di masyarakat banyak,
biasanya langsung tidak disetujui atau versi lunaknya akan dibahas lain
waktu. Peserta rapat biasanya beberapa orang pengurus saja.
Sementara itu, DIB karena susah mendapatkan 'akses' melalui birokrat dan
politisi harus membuat sejenis demonstrasi yang damai (dokter akan
tidak elok kalau demonstrasinya anarkis) dengan peserta yang seramai
mungkin, baru ada jalan didengarkan protesnya dan baru perwakilannya
diajak bicara. Atau kalau media banyak meliput. Heboh dulu, baru diajak
bicara.
Saya pribadi memilih protes, membuat 'curhat' atau edukasi ke masyarakat
melalui berbagai media sosial seperti 'facebook' dan tentu saja
Kompasiana, karena kelihatannya beberapa tulisan saya yang menyoroti
beberapa masalah BPJS di lapangan, walau pelan namun tampaknya ada
tanggapan. Mungkin bukan karena tulisan saya semata, tetapi minimal saya
cukup puas sudah menyampaikan aspirasi dan merasa sudah ada tanggapan.
Apapun caranya, dokter tetap berhak menyampaikan aspirasinya lewat
berbagai jalur, namun sebaiknya memperhatikan beberapa hal berikut:
1. Jangan terkesan meminta pihak berwenang memihak dokter daripada
masyarakat.
2. Jangan terkesan ditunggangi kepentingan politik tertentu.
3. Sebaiknya pelayanan di fasilitas kesehatan tetap dijalankan, ada
dokter pengganti.
4. Sebaiknya instansi tempat bekerja tidak keberatan kalau si dokter
ikut demonstrasi walaupun tidak memerintahkan. Kalau dilarang dan
diancam hukuman, sebaiknya dipikirkan lagi.
5. Yakin akan apa yang didemonstrasikan, jangan hanya ikut-ikutan dan
fokus pada aspirasi awal, jangan mau terprovokasi dengan isu-isu baru
diluar kesepakatan awal yang disisipkan saat orasi demonstrasi.
6. Walaupun nanti demonstrasinya berhasil membuat perubahan ke arah
perbaikan, sebaiknya semua dokter tetap memilih jalur diplomasi yang
lebih efisien, jangan selalu memakai cara demo untuk memecahkan
kebuntuan.
Bagi teman sejawat yang akan berjuang besok, saya mendoakan yang terbaik
bagi semuanya. Jangan lupa sarapan, jangan sedih kalau kami tidak di
sisi kalian berjuang, karena banyak yang terkendala ijin mengingat besok
hari Senin, hari banyak-banyaknya pasien.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/posmasiahaan/berapa-banyakkah-dokter-protes-baru-didengar_56d2cc86dc22bd5a1bec047a
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/posmasiahaan/berapa-banyakkah-dokter-protes-baru-didengar_56d2cc86dc22bd5a1bec047a
Besok, akan ada
belasan, puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan dokter dan calon dokter
yang menyampaikan aspirasi berkaitan dengan berbagai kekurangan program
JKN selama lebih 2 tahun.
Rencananya akan mulai dari Bundaran HI sampai istana negara. Protes yang
akan disampaikan mulai dari berbagai kekurangan di pembiayaan,
keselamatan pasien, mahalnya biaya kesehatan sampai pelecehan profesi
dokter.
Aksi ini diprakarsai oleh Dokter Indonesia Bersatu (DIB), sebuah
organisasi dokter-dokter yang tidak menjadi saingan Ikatan Dokter
Indonesia (IDI), bukan pula organisasi sayap IDI, tetapi hanya berniat
lebih vokal menyuarakan kepentingan profesi dokter yang mulai menurun
pengakuannya di mata masyarakat.
IDI sebagai satu-satunya wadah profesi dokter yang diakui undang-undang
pasti memiliki perhatian yang sama dengan DIB, namun penyampaian
aspirasinya harus melalui rapat kerja formal dengan instansi terkait dan
beradu argumenlah disana. Biasanya adu argumentasi ini menguntungkan
IDI kalau ada peristiwa luar biasa yang membuat para birokrat dan
politikus merasa penting memihak aspirasi dokter, sebaliknya aspirasi
tersebut hambar kalau tidak ada peristiwa luar biasa di bidang kesehatan
dan menyangkut profesi dokter. Kalau aspirasi tersebut terkesan lebih
menguntungkan dokter tetapi kurang berkenan di masyarakat banyak,
biasanya langsung tidak disetujui atau versi lunaknya akan dibahas lain
waktu. Peserta rapat biasanya beberapa orang pengurus saja.
Sementara itu, DIB karena susah mendapatkan 'akses' melalui birokrat dan
politisi harus membuat sejenis demonstrasi yang damai (dokter akan
tidak elok kalau demonstrasinya anarkis) dengan peserta yang seramai
mungkin, baru ada jalan didengarkan protesnya dan baru perwakilannya
diajak bicara. Atau kalau media banyak meliput. Heboh dulu, baru diajak
bicara.
Saya pribadi memilih protes, membuat 'curhat' atau edukasi ke masyarakat
melalui berbagai media sosial seperti 'facebook' dan tentu saja
Kompasiana, karena kelihatannya beberapa tulisan saya yang menyoroti
beberapa masalah BPJS di lapangan, walau pelan namun tampaknya ada
tanggapan. Mungkin bukan karena tulisan saya semata, tetapi minimal saya
cukup puas sudah menyampaikan aspirasi dan merasa sudah ada tanggapan.
Apapun caranya, dokter tetap berhak menyampaikan aspirasinya lewat
berbagai jalur, namun sebaiknya memperhatikan beberapa hal berikut:
1. Jangan terkesan meminta pihak berwenang memihak dokter daripada
masyarakat.
2. Jangan terkesan ditunggangi kepentingan politik tertentu.
3. Sebaiknya pelayanan di fasilitas kesehatan tetap dijalankan, ada
dokter pengganti.
4. Sebaiknya instansi tempat bekerja tidak keberatan kalau si dokter
ikut demonstrasi walaupun tidak memerintahkan. Kalau dilarang dan
diancam hukuman, sebaiknya dipikirkan lagi.
5. Yakin akan apa yang didemonstrasikan, jangan hanya ikut-ikutan dan
fokus pada aspirasi awal, jangan mau terprovokasi dengan isu-isu baru
diluar kesepakatan awal yang disisipkan saat orasi demonstrasi.
6. Walaupun nanti demonstrasinya berhasil membuat perubahan ke arah
perbaikan, sebaiknya semua dokter tetap memilih jalur diplomasi yang
lebih efisien, jangan selalu memakai cara demo untuk memecahkan
kebuntuan.
Bagi teman sejawat yang akan berjuang besok, saya mendoakan yang terbaik
bagi semuanya. Jangan lupa sarapan, jangan sedih kalau kami tidak di
sisi kalian berjuang, karena banyak yang terkendala ijin mengingat besok
hari Senin, hari banyak-banyaknya pasien.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/posmasiahaan/berapa-banyakkah-dokter-protes-baru-didengar_56d2cc86dc22bd5a1bec047a
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/posmasiahaan/berapa-banyakkah-dokter-protes-baru-didengar_56d2cc86dc22bd5a1bec047a
Besok, akan ada
belasan, puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan dokter dan calon dokter
yang menyampaikan aspirasi berkaitan dengan berbagai kekurangan program
JKN selama lebih 2 tahun.
Rencananya akan mulai dari Bundaran HI sampai istana negara. Protes yang
akan disampaikan mulai dari berbagai kekurangan di pembiayaan,
keselamatan pasien, mahalnya biaya kesehatan sampai pelecehan profesi
dokter.
Aksi ini diprakarsai oleh Dokter Indonesia Bersatu (DIB), sebuah
organisasi dokter-dokter yang tidak menjadi saingan Ikatan Dokter
Indonesia (IDI), bukan pula organisasi sayap IDI, tetapi hanya berniat
lebih vokal menyuarakan kepentingan profesi dokter yang mulai menurun
pengakuannya di mata masyarakat.
IDI sebagai satu-satunya wadah profesi dokter yang diakui undang-undang
pasti memiliki perhatian yang sama dengan DIB, namun penyampaian
aspirasinya harus melalui rapat kerja formal dengan instansi terkait dan
beradu argumenlah disana. Biasanya adu argumentasi ini menguntungkan
IDI kalau ada peristiwa luar biasa yang membuat para birokrat dan
politikus merasa penting memihak aspirasi dokter, sebaliknya aspirasi
tersebut hambar kalau tidak ada peristiwa luar biasa di bidang kesehatan
dan menyangkut profesi dokter. Kalau aspirasi tersebut terkesan lebih
menguntungkan dokter tetapi kurang berkenan di masyarakat banyak,
biasanya langsung tidak disetujui atau versi lunaknya akan dibahas lain
waktu. Peserta rapat biasanya beberapa orang pengurus saja.
Sementara itu, DIB karena susah mendapatkan 'akses' melalui birokrat dan
politisi harus membuat sejenis demonstrasi yang damai (dokter akan
tidak elok kalau demonstrasinya anarkis) dengan peserta yang seramai
mungkin, baru ada jalan didengarkan protesnya dan baru perwakilannya
diajak bicara. Atau kalau media banyak meliput. Heboh dulu, baru diajak
bicara.
Saya pribadi memilih protes, membuat 'curhat' atau edukasi ke masyarakat
melalui berbagai media sosial seperti 'facebook' dan tentu saja
Kompasiana, karena kelihatannya beberapa tulisan saya yang menyoroti
beberapa masalah BPJS di lapangan, walau pelan namun tampaknya ada
tanggapan. Mungkin bukan karena tulisan saya semata, tetapi minimal saya
cukup puas sudah menyampaikan aspirasi dan merasa sudah ada tanggapan.
Apapun caranya, dokter tetap berhak menyampaikan aspirasinya lewat
berbagai jalur, namun sebaiknya memperhatikan beberapa hal berikut:
1. Jangan terkesan meminta pihak berwenang memihak dokter daripada
masyarakat.
2. Jangan terkesan ditunggangi kepentingan politik tertentu.
3. Sebaiknya pelayanan di fasilitas kesehatan tetap dijalankan, ada
dokter pengganti.
4. Sebaiknya instansi tempat bekerja tidak keberatan kalau si dokter
ikut demonstrasi walaupun tidak memerintahkan. Kalau dilarang dan
diancam hukuman, sebaiknya dipikirkan lagi.
5. Yakin akan apa yang didemonstrasikan, jangan hanya ikut-ikutan dan
fokus pada aspirasi awal, jangan mau terprovokasi dengan isu-isu baru
diluar kesepakatan awal yang disisipkan saat orasi demonstrasi.
6. Walaupun nanti demonstrasinya berhasil membuat perubahan ke arah
perbaikan, sebaiknya semua dokter tetap memilih jalur diplomasi yang
lebih efisien, jangan selalu memakai cara demo untuk memecahkan
kebuntuan.
Bagi teman sejawat yang akan berjuang besok, saya mendoakan yang terbaik
bagi semuanya. Jangan lupa sarapan, jangan sedih kalau kami tidak di
sisi kalian berjuang, karena banyak yang terkendala ijin mengingat besok
hari Senin, hari banyak-banyaknya pasien.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/posmasiahaan/berapa-banyakkah-dokter-protes-baru-didengar_56d2cc86dc22bd5a1bec047a
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/posmasiahaan/berapa-banyakkah-dokter-protes-baru-didengar_56d2cc86dc22bd5a1bec047a
Besok, akan ada
belasan, puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan dokter dan calon dokter
yang menyampaikan aspirasi berkaitan dengan berbagai kekurangan program
JKN selama lebih 2 tahun.
Rencananya akan mulai dari Bundaran HI sampai istana negara. Protes yang
akan disampaikan mulai dari berbagai kekurangan di pembiayaan,
keselamatan pasien, mahalnya biaya kesehatan sampai pelecehan profesi
dokter.
Aksi ini diprakarsai oleh Dokter Indonesia Bersatu (DIB), sebuah
organisasi dokter-dokter yang tidak menjadi saingan Ikatan Dokter
Indonesia (IDI), bukan pula organisasi sayap IDI, tetapi hanya berniat
lebih vokal menyuarakan kepentingan profesi dokter yang mulai menurun
pengakuannya di mata masyarakat.
IDI sebagai satu-satunya wadah profesi dokter yang diakui undang-undang
pasti memiliki perhatian yang sama dengan DIB, namun penyampaian
aspirasinya harus melalui rapat kerja formal dengan instansi terkait dan
beradu argumenlah disana. Biasanya adu argumentasi ini menguntungkan
IDI kalau ada peristiwa luar biasa yang membuat para birokrat dan
politikus merasa penting memihak aspirasi dokter, sebaliknya aspirasi
tersebut hambar kalau tidak ada peristiwa luar biasa di bidang kesehatan
dan menyangkut profesi dokter. Kalau aspirasi tersebut terkesan lebih
menguntungkan dokter tetapi kurang berkenan di masyarakat banyak,
biasanya langsung tidak disetujui atau versi lunaknya akan dibahas lain
waktu. Peserta rapat biasanya beberapa orang pengurus saja.
Sementara itu, DIB karena susah mendapatkan 'akses' melalui birokrat dan
politisi harus membuat sejenis demonstrasi yang damai (dokter akan
tidak elok kalau demonstrasinya anarkis) dengan peserta yang seramai
mungkin, baru ada jalan didengarkan protesnya dan baru perwakilannya
diajak bicara. Atau kalau media banyak meliput. Heboh dulu, baru diajak
bicara.
Saya pribadi memilih protes, membuat 'curhat' atau edukasi ke masyarakat
melalui berbagai media sosial seperti 'facebook' dan tentu saja
Kompasiana, karena kelihatannya beberapa tulisan saya yang menyoroti
beberapa masalah BPJS di lapangan, walau pelan namun tampaknya ada
tanggapan. Mungkin bukan karena tulisan saya semata, tetapi minimal saya
cukup puas sudah menyampaikan aspirasi dan merasa sudah ada tanggapan.
Apapun caranya, dokter tetap berhak menyampaikan aspirasinya lewat
berbagai jalur, namun sebaiknya memperhatikan beberapa hal berikut:
1. Jangan terkesan meminta pihak berwenang memihak dokter daripada
masyarakat.
2. Jangan terkesan ditunggangi kepentingan politik tertentu.
3. Sebaiknya pelayanan di fasilitas kesehatan tetap dijalankan, ada
dokter pengganti.
4. Sebaiknya instansi tempat bekerja tidak keberatan kalau si dokter
ikut demonstrasi walaupun tidak memerintahkan. Kalau dilarang dan
diancam hukuman, sebaiknya dipikirkan lagi.
5. Yakin akan apa yang didemonstrasikan, jangan hanya ikut-ikutan dan
fokus pada aspirasi awal, jangan mau terprovokasi dengan isu-isu baru
diluar kesepakatan awal yang disisipkan saat orasi demonstrasi.
6. Walaupun nanti demonstrasinya berhasil membuat perubahan ke arah
perbaikan, sebaiknya semua dokter tetap memilih jalur diplomasi yang
lebih efisien, jangan selalu memakai cara demo untuk memecahkan
kebuntuan.
Bagi teman sejawat yang akan berjuang besok, saya mendoakan yang terbaik
bagi semuanya. Jangan lupa sarapan, jangan sedih kalau kami tidak di
sisi kalian berjuang, karena banyak yang terkendala ijin mengingat besok
hari Senin, hari banyak-banyaknya pasien.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/posmasiahaan/berapa-banyakkah-dokter-protes-baru-didengar_56d2cc86dc22bd5a1bec047a
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/posmasiahaan/berapa-banyakkah-dokter-protes-baru-didengar_56d2cc86dc22bd5a1bec047a
Besok, akan ada
belasan, puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan dokter dan calon dokter
yang menyampaikan aspirasi berkaitan dengan berbagai kekurangan program
JKN selama lebih 2 tahun.
Rencananya akan mulai dari Bundaran HI sampai istana negara. Protes yang
akan disampaikan mulai dari berbagai kekurangan di pembiayaan,
keselamatan pasien, mahalnya biaya kesehatan sampai pelecehan profesi
dokter.
Aksi ini diprakarsai oleh Dokter Indonesia Bersatu (DIB), sebuah
organisasi dokter-dokter yang tidak menjadi saingan Ikatan Dokter
Indonesia (IDI), bukan pula organisasi sayap IDI, tetapi hanya berniat
lebih vokal menyuarakan kepentingan profesi dokter yang mulai menurun
pengakuannya di mata masyarakat.
IDI sebagai satu-satunya wadah profesi dokter yang diakui undang-undang
pasti memiliki perhatian yang sama dengan DIB, namun penyampaian
aspirasinya harus melalui rapat kerja formal dengan instansi terkait dan
beradu argumenlah disana. Biasanya adu argumentasi ini menguntungkan
IDI kalau ada peristiwa luar biasa yang membuat para birokrat dan
politikus merasa penting memihak aspirasi dokter, sebaliknya aspirasi
tersebut hambar kalau tidak ada peristiwa luar biasa di bidang kesehatan
dan menyangkut profesi dokter. Kalau aspirasi tersebut terkesan lebih
menguntungkan dokter tetapi kurang berkenan di masyarakat banyak,
biasanya langsung tidak disetujui atau versi lunaknya akan dibahas lain
waktu. Peserta rapat biasanya beberapa orang pengurus saja.
Sementara itu, DIB karena susah mendapatkan 'akses' melalui birokrat dan
politisi harus membuat sejenis demonstrasi yang damai (dokter akan
tidak elok kalau demonstrasinya anarkis) dengan peserta yang seramai
mungkin, baru ada jalan didengarkan protesnya dan baru perwakilannya
diajak bicara. Atau kalau media banyak meliput. Heboh dulu, baru diajak
bicara.
Saya pribadi memilih protes, membuat 'curhat' atau edukasi ke masyarakat
melalui berbagai media sosial seperti 'facebook' dan tentu saja
Kompasiana, karena kelihatannya beberapa tulisan saya yang menyoroti
beberapa masalah BPJS di lapangan, walau pelan namun tampaknya ada
tanggapan. Mungkin bukan karena tulisan saya semata, tetapi minimal saya
cukup puas sudah menyampaikan aspirasi dan merasa sudah ada tanggapan.
Apapun caranya, dokter tetap berhak menyampaikan aspirasinya lewat
berbagai jalur, namun sebaiknya memperhatikan beberapa hal berikut:
1. Jangan terkesan meminta pihak berwenang memihak dokter daripada
masyarakat.
2. Jangan terkesan ditunggangi kepentingan politik tertentu.
3. Sebaiknya pelayanan di fasilitas kesehatan tetap dijalankan, ada
dokter pengganti.
4. Sebaiknya instansi tempat bekerja tidak keberatan kalau si dokter
ikut demonstrasi walaupun tidak memerintahkan. Kalau dilarang dan
diancam hukuman, sebaiknya dipikirkan lagi.
5. Yakin akan apa yang didemonstrasikan, jangan hanya ikut-ikutan dan
fokus pada aspirasi awal, jangan mau terprovokasi dengan isu-isu baru
diluar kesepakatan awal yang disisipkan saat orasi demonstrasi.
6. Walaupun nanti demonstrasinya berhasil membuat perubahan ke arah
perbaikan, sebaiknya semua dokter tetap memilih jalur diplomasi yang
lebih efisien, jangan selalu memakai cara demo untuk memecahkan
kebuntuan.
Bagi teman sejawat yang akan berjuang besok, saya mendoakan yang terbaik
bagi semuanya. Jangan lupa sarapan, jangan sedih kalau kami tidak di
sisi kalian berjuang, karena banyak yang terkendala ijin mengingat besok
hari Senin, hari banyak-banyaknya pasien.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/posmasiahaan/berapa-banyakkah-dokter-protes-baru-didengar_56d2cc86dc22bd5a1bec047a
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/posmasiahaan/berapa-banyakkah-dokter-protes-baru-didengar_56d2cc86dc22bd5a1bec047a
Besok, akan ada
belasan, puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan dokter dan calon dokter
yang menyampaikan aspirasi berkaitan dengan berbagai kekurangan program
JKN selama lebih 2 tahun.
Rencananya akan mulai dari Bundaran HI sampai istana negara. Protes yang
akan disampaikan mulai dari berbagai kekurangan di pembiayaan,
keselamatan pasien, mahalnya biaya kesehatan sampai pelecehan profesi
dokter.
Aksi ini diprakarsai oleh Dokter Indonesia Bersatu (DIB), sebuah
organisasi dokter-dokter yang tidak menjadi saingan Ikatan Dokter
Indonesia (IDI), bukan pula organisasi sayap IDI, tetapi hanya berniat
lebih vokal menyuarakan kepentingan profesi dokter yang mulai menurun
pengakuannya di mata masyarakat.
IDI sebagai satu-satunya wadah profesi dokter yang diakui undang-undang
pasti memiliki perhatian yang sama dengan DIB, namun penyampaian
aspirasinya harus melalui rapat kerja formal dengan instansi terkait dan
beradu argumenlah disana. Biasanya adu argumentasi ini menguntungkan
IDI kalau ada peristiwa luar biasa yang membuat para birokrat dan
politikus merasa penting memihak aspirasi dokter, sebaliknya aspirasi
tersebut hambar kalau tidak ada peristiwa luar biasa di bidang kesehatan
dan menyangkut profesi dokter. Kalau aspirasi tersebut terkesan lebih
menguntungkan dokter tetapi kurang berkenan di masyarakat banyak,
biasanya langsung tidak disetujui atau versi lunaknya akan dibahas lain
waktu. Peserta rapat biasanya beberapa orang pengurus saja.
Sementara itu, DIB karena susah mendapatkan 'akses' melalui birokrat dan
politisi harus membuat sejenis demonstrasi yang damai (dokter akan
tidak elok kalau demonstrasinya anarkis) dengan peserta yang seramai
mungkin, baru ada jalan didengarkan protesnya dan baru perwakilannya
diajak bicara. Atau kalau media banyak meliput. Heboh dulu, baru diajak
bicara.
Saya pribadi memilih protes, membuat 'curhat' atau edukasi ke masyarakat
melalui berbagai media sosial seperti 'facebook' dan tentu saja
Kompasiana, karena kelihatannya beberapa tulisan saya yang menyoroti
beberapa masalah BPJS di lapangan, walau pelan namun tampaknya ada
tanggapan. Mungkin bukan karena tulisan saya semata, tetapi minimal saya
cukup puas sudah menyampaikan aspirasi dan merasa sudah ada tanggapan.
Apapun caranya, dokter tetap berhak menyampaikan aspirasinya lewat
berbagai jalur, namun sebaiknya memperhatikan beberapa hal berikut:
1. Jangan terkesan meminta pihak berwenang memihak dokter daripada
masyarakat.
2. Jangan terkesan ditunggangi kepentingan politik tertentu.
3. Sebaiknya pelayanan di fasilitas kesehatan tetap dijalankan, ada
dokter pengganti.
4. Sebaiknya instansi tempat bekerja tidak keberatan kalau si dokter
ikut demonstrasi walaupun tidak memerintahkan. Kalau dilarang dan
diancam hukuman, sebaiknya dipikirkan lagi.
5. Yakin akan apa yang didemonstrasikan, jangan hanya ikut-ikutan dan
fokus pada aspirasi awal, jangan mau terprovokasi dengan isu-isu baru
diluar kesepakatan awal yang disisipkan saat orasi demonstrasi.
6. Walaupun nanti demonstrasinya berhasil membuat perubahan ke arah
perbaikan, sebaiknya semua dokter tetap memilih jalur diplomasi yang
lebih efisien, jangan selalu memakai cara demo untuk memecahkan
kebuntuan.
Bagi teman sejawat yang akan berjuang besok, saya mendoakan yang terbaik
bagi semuanya. Jangan lupa sarapan, jangan sedih kalau kami tidak di
sisi kalian berjuang, karena banyak yang terkendala ijin mengingat besok
hari Senin, hari banyak-banyaknya pasien.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/posmasiahaan/berapa-banyakkah-dokter-protes-baru-didengar_56d2cc86dc22bd5a1bec047a
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/posmasiahaan/berapa-banyakkah-dokter-protes-baru-didengar_56d2cc86dc22bd5a1bec047a

No comments:
Post a Comment