• About
  • Contact
  • Daftar Isi

Review Buku Tradisi Pesantren (Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya mengenai Masa Depan Indonesia)

 on Sunday, May 1, 2016  




Judul Buku    : Tradisi Pesantren ( Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya mengenai
   Masa   Depan Indonesia )
Penulis             : Zamakhsyari Dhofier
Penerbit          : LP3ES
Tebal Buku     : 307
Buku dengan judul Tradisi Pesantren yang dikarang oleh Zamakhasary Zhofir adalah sebuah desertasi untuk memperoleh gelar Doctor dalam bidang Antropologi Sosial di Australian Bational University, Cambera, Australia pada tahun 1980. Disertasi yang mengupas tentang kehidupan Kyai tersebut disusun berdasarkan penelitiaan yang dilakukannya sejak bulan September 1977 sampai dengan bulan Agustus 1978 di dua pesantren, yakni Pesantren Tebuireng Jombang dan Pesantren Tegalsari Salatiga.
Penulis mengemukakan alasan pemilihan pesantren Tebuireng yang mewakili pesantren kota dan  memainkan peranan dominan dalam hal pelestarian dan pengembangan tradisi pesantren di abad ke-20, serta menjadi supplier kepemimpinan pesantren seluruh Jawa dan Madura. Sedangkan pemilihan pesantren Tegalsari dianggap mewakili perkembangan pesantren di daerah jauh dari kota atau pedesaan.
Buku ini bersifat deskriptif dan analistis. Analisa menunjukan data etnografis yang lebih banyak lagi dan lebih imajinatif untuk memahami masyarakat dan kebudayaan manusia. Pendekatan yang tepat dalam memahami Islam di Jawa yakni  dengan menggunakan pendekatan antropologi. Pendekatan Antropologi. Antropologi berasal dari kata anthropos yang berarti "manusia", dan logos yang berarti ilmu. Antropologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkannya, sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.
Pendekatan antropologi dapat diartikan sebagai suatu sudut pandang atau cara melihat dan memperlakukan sesuatu gejala yang menjadi per­hatian terkait bentuk fisik dan kebudayaan sebagai hasil dari cipta, karsa dan rasa manusia. Adapun Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama nampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya.[1]
Ditinjau dari pengertian antropologi tersebut, obyek kajian dalam antropologi mencakup 2 (dua) hal yaitu :
1, Keanekaragaman bentuk fisik manusia
2, Keanekaragaman budaya/kebudayaan sebagai hasil dari cipta, karsa dan rasa manusia.
Amin Abdullah mengemukakan 4 ciri fundamental cara kerja pendekatan antropologi terhadap agama yaitu :
1.      Bercorak descriptive, bukannya normative.
2.      Yang terpokok dilihat oleh pendekatan antropologi  adalah local practices , yaitu praktik konkrit dan nyata di lapangan.
3.      Antropologi selalu mencari keterhubungan dan keterkaitan antar berbagai domain kehidupan  secara lebih utuh (connections across social domains).
4.      Comparative, artinya studi dan pendekatan antropologi memerlukan perbandingan dari berbagai tradisi, sosial, budaya dan agama-agama.[2]
Buku ini merupakan penolakan terhadap hasil kajian mayoritas sarjana Barat dan sebagian sarjana Indonesia yang selama ini memandang Islam Tradisional sebagai sebuah fenomena yang stagnan dan tidak sejalan dengan gelombang modernisasi di Indonesia. Obyek kajian buku ini memfokuskan perhatian pada Tradisi pendidikan Islam tradisional di mana pesantren memegang posisi sentral dan mengerucutkan perhatian pada pandangan Kyai dalam kehidupan kepesantrenan.
Sebagai langkah awal kajiannya, Dhofier menyusun beberapa preposisi yang diharapkan dapat menghantarkan kepada kerangka berpikir tulisannya. Preposisi tersebut antara lain:
1.      Islam telah menyebar di Jawa melalui proses yang tidak mudah, penuh tantangan dan secara bertahap. Penyebaran Islam terjadi dalam 2 tahap di mana tahap awal yaitu pengislaman 90% orang Indonesia dari pertengahan abad ke-15 sampai abad 16. Sedangkan tahap kedua adalah tahap pemantapan atau penyempurnaan.
2. Pada masa pemantapan Islamisasi ini Belanda datang dan melakukan pembatasan-pembatasan terhadap penyebaran Islam. Akibatnya Islam yang sebelumnya memainkan peran besar sebagai kekuatan sosial, kultural dan politik tersudut posisinya dan domain perjuangannya bergeser ke pedesaan. Akibat lanjutan dari keadaan ini Kyai sebagai tokoh Islamisasi semakin memokuskan diri pada bidang keagamaan.
3.  Sektor perdagangan yang sebelumnya menjadi sektor yang melalui mana Islamisasi erat dihubungkan bergeser ke sektor pertanian akibat dari monopoli perdagangan yang dilancarkan Belanda. Pergeseran ini semakin memuluskan jalan Islamisasi oleh mubalig-mubalig profesional.
4.  Para Kyai lebih mengutamakan pendekatan persuasi dalam menarik simpati pengikutnya. Dengan demikian para Kyai sedari awal tidak membuang sarana –sarana yang sudah dikenal penduduk sekitarnya seperti lembaga – lembaga tradisional.
Penulis menguraikan bahwa menurut tradisi pesantren, pengetahuan seseorang diukur oleh jumlah buku yang telah dipelajarinya dan kepada “ulama`” mana ia berguru.. Disebutkan juga santri sebagai musafir yang menerima zakat, dan kalau mati dalam menuntut ilmu dianggap mati syahid, dan menuntut ilmu adalah kewajiban tanpa ujung akhir.
. Sistem Pengajaran Pesantren terbagi atas :
1.      Sistem Individual (sorogan) è diberikan dalam pengajian kepada murid-murid yang telah menguasai pembacaan Qur’an
2.      Sistem Bandongan (weton) è dibuatnya kelompok murid untuk mendengarkan seorang guru yang membaca, menerjemahkan , menerangkan dan mengulas buku Islam berbahasa Arab.
Pada tahun 1970 dan 1998 berkembang variasi tipe pendidikan pesantren yaitu tipe klasik yang mengajarkan kitab – kitab Islam klasik. Tipe ini tidak mengenalkan pengajaran pengetahuan umum diantaranya pesantren Lirboyo dan Ploso di Kediri. Yang ke dua tipe baru yaitu mendirikan sekolah – sekolah umum dan madrasah yang mayoritas mata pelajaran yang dikembangkannya bukan kitab – kitab Islam klasik.
Menurut penulis tradisi pesantren mengalami perubahan-perubahan dengan menguraikan latar belakang sejarah pesantren dari masa awal Islam masuk ke Indonesia yaitu ; dipengaruhi kegiatan tarekat yang awalnya berbentuk kelompok-kelompok dzikir dan wirid lalu membuat kamar-kamar tempat suluk di kiri-kanan masjid kemudian berkembang pada pengajaran kitab-kitab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Sistem madrasah berkembang di Negara Islam yang lain sejak abad ke-12, dan tidak muncul di jawa sampai abad ke 20. Berdasarkan karya sastra Jawa klasik sistem madrasah telah ada pada abad 16. Pola kombinasi madrasah yang mengajarkan bidang jurisprudensi, teolog, dan tasawuf dan tarekat inilah yang tumbuh di Jawa tanpa mempertentangkan aspek syari’ah dan aspek tasawuf. Pada abad awal ke-19 terkenal dengan semangat baru dalam kehidupan keagamaan (religious revivalsm). Hal ini akibat dari bertambahnya jumlah haji, guru-guru ngaji, murid-murid pesantren, tumbuhnya proto-nasionalisme, dan pada pertengahan abad ke-19, banyak anak-anak muda dari Jawa tinggal di Mekkah dan Madinah untuk memperdalam pengetahuan agama, dan pada akhir abad ke-19, banyak ulama kelahiran Jawa yang diakui kebesarannya ilmunya dengan menjadi pengajar tetap masjid Al-Haram seperti Syekh Nawawi banten, Syekh Mahfudz Termas.
Persyaratan pendirian pesantren dalam pandangan penulis adalah terpenuhinya 5 elemen yaitu; pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab Islam klasik, dan kiyai.
Elemen-elemen Pesantren yaitu:
1.       Pondok,  berguna sebagai asrama santri Pondok, asrama bagi para santri merupakan ciri khas tradisi pesantren yang membedakannya dengan sistem pendidikan tradisional Islam yang berkembang di negara lain.
2.       Masjid, tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri, terutama dalam praktek sembahyang lima waktu, khutbah dan sembahyang Jumat dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik.
3.       Pengajaran kitab- kitab klasik = Kitab-kitab klasik dapat digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu: kitab-kitab dasar, kitab-kitab tingkat menengah, dan kitab-kitab besar.
4.       Santri, yaitu murid di pesantren. Menurut tradisi pesantren, terdapat dua kelompok santri:
Santri mukim, yaitu murid-murid yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam kelompok pesantren.Santri Kalong, yaitu murid-murid yang berasal dari desa-desa disekililing pesantren, yang biasanya tidak menetap dalam pesantren.
5.       Kyai, dengan kaitan yang sangat kuat dengan tradisi pesantren, gelar kyai dipakai untuk menunjuk para ulama dari kelompok Islam tradisional.

Pesantren bila dilihat dari jumlah santrinya dapat digolongkan menjadi tiga kelompok;
  1. Pesantren kecil, biasanya jumlah santri dibawah seribu.
  2. Pesantren menengah, biasanya jumlah santri antara 1.000 sampai 2.000
  3. Pesantren besar, biasanya jumlah santri lebih dari 2.000.
Tulisan Dhofier sesungguhnya juga melukiskan kejeniusan para kyai dalam menegakkan dan secara simultan mengembangkan pesantren. Secara ekspilisit Dhofier menyebut beberapa cara yang pada gilirannya menjadi sarana utama kyai menegakkan pesantrennya. Di antara cara-cara tersebut adalah :
1.      Mengembangkan suatu tradisi bahwa keluarga terdekat harus menjadi calon kuat pengganti kepemimpinan pesantren
2.      Mengembangkan suatu jaringan aliansi perkawinan endogamous antara keluarga kyai;
3.      Mengembangkan tradisi transmisi pengetahuan dan rantai transmisi intelektual antara sesama kyai dan dan keluarganya.
Jika diperhatikan secara seksama ketiga cara yang disebut Dhofier pada dasarnya mengerucut pada dua sarana, keluarga dan ijazah. Kedua sarana tersebut dapat dianggap berperan vital dalam keberadaan pesantren sebagai pusat pendidikan Islam tradisional. Di samping kedua sarana tersebut baik penguatan keluarga dan ijazah terdapat pula sarana tarekat yang memainkan peranan cukup menyolok. Hingga dapat dikatakan seorang kyai selalu identik dengan seorang yang memiliki kemampuan dan memimpin tarekat. 
Sarana yang tidak dapat diabaikan keberadaanya dalam pelestaruan pesantren adalah tarekat. Dhofier membatasi pengertian tarekat sebagai “suatu kepatuhan secara ketat kepada peraturan-peraturan syariah Islam dan mengamalkannya sebaik-baiknya baik yang bersifat ritual maupun sosial. Organisasi tarekat yang berkembang di Jawa pada abad ke 16 dan 19 yaitu;
  1. Tarekat Sattariyah dikembangkan oleh Abdurrauf Sinkel lalu menyebar ke Jawa Barat dipimpin Abdul Muhyi, kemudian ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.
  2. Tarekat Qadiriyah berasal dari Aceh dipimpin  Hamzah Fansuri
  3. Tarekat Qadiriyah Wan Naqsabandiyah didirikan oleh Syaikh Khatib Sambas.
  4. Tarekat Siddiqiyah dipimpin Kiyai Mukhtar Losari 1958
  5. Tarekat Wahidiyyah didirikan  Kiayi Majid Ma’ruf Kedunglo Kediri tahun 1963
  6. Tarekat Mu’tabaroh Nahdliyin, didirikan pada tanggal 10 Oktober 1957, dibentuk badan federasi dan dikukuhkan namanya Pucuk Pimpinan Jamiyah Ahli Thoriqoh Mu’tabaroh Nahdliyin pada mu”tamar NU di Semarang tahun 1957.
1.      Kasus Pesantren Tebuireng
Penulis mengawali deskripsi profil pesanten Tebuireng, yang secara detil dijelaskan sebagai berikut; Desa Cukir jarak 8 KM dari Jombang, Penduduk Cukir  1977 adalah 7.000 jiwa, Jumlah santri 3.129, 3 komplek yaitu; Tebuireng, Seblak, Cukir. Peredaran uang di pasar dari kalangan santri 750.000 perhari, 4 unit gedung:1. Masjid,2. Rumah Direktur,3. 15 unit pondok terdiri dari 150 kamar ukuran 2×2 m, 4. Gedung sekolah dan Universitas.
Perkembangan pesantren Tebuireng oleh penulis dipaparkan sebagai berikut;
-          10 tahun pertama sejak 1899, perkembangan pesat pesantren menjadi pesantren besar, diperkenalkan sistem sorogan dan bandongan
-          20 tahun pertama, perkembanagn sistem madrasah 1916 dan pelajaran umum 1919
-          Pembagian kelas di madrasah 1916-1934.1932-1933 perubahan bandongan kepada sistem tutorial. Dan mendirikan perpustakaan.
-          Tahun 1950, didirikan madrasah ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah, dan madrasah Mu’allimin.
-          Tahun 1967, didirikan UNHAS (Universitas Hasyim ‘Asy’ari)
-          Tahun 1978 jumlah santri 2.098
-          30 tahun pertama menyelenggarakan 10 macam aktivitas pendidikan;1. Kelas Bandongan, 2. MI, 3. Persiapan MTs, 4.MTs, 5.MA,6. SMP,7. SMA,8. Madrasah Huffadz, 9. Jam’iyyah dan 10. Universitas.
2.      Pesantren Kecil: Kasus Pesantren Tegalsari
Pesantren Tegal sari berlokasi di dekat salatiga jawa tengah didirikan oleh Kyai Muhammad Rozi, merupakan anak dari Kyai imam Rozi(pendiri pesantren tempusari klaten). Awalnya pendidikan di  pesantren tegalsari amat terbatas karena Kyai Muhammad  Rozi tidak memiliki pendidikan yang cukup tinggi selain itu  pesantren tegalsari berdiri di daerah yang jauh dari kota serta penduduk sekitar belum banyak mengenal islam . Pesantren tegalsari berkembang  setelah Kyai Abdul Jalil mendirikan cabang tarekat Naqsyabandiyyah.  Dalam kurun beberapa tahun saja pengikutnya telah bertambah dalam jumlah ribuan. Keberhasilan Kyai  Abdul Jalil  dalam mengembangkan tarekat naqsyabandiyyah memungkinkan dirinya untuk memusatkan perhatianya sebagai pemimpin agama.
Di saat mulai berkembang tegalsari justru mulai ditinggalkan pemimpinya. Kyai abdul jalil meninggal dunia. Kemudian tegalsari dipimpin oleh kyai jufri(anak tertua kyai abdul jalil) yang notabene tidak memiliki pendidikan yang memadai. Pesantren Tegalsari lalu dipimpin oleh kyai hisyam (adik kyai jufri), ia berhasil mengembangkan system madrasah yang dapat menarik anak anak di sekitar tegal sari.
Ahlussunnah wal jama'ah sebagai dasar ideologis kyai
Seluruh tindakan, perbuatan, amalan-amalan dan kreasi yang dilakukan para kyai sebenarnya memiliki rujukan dan dasar ideologis yang sama dengan dasar dan rujukan mana umat Islam di seluruh penjuru dunia. Adanya kesamaan dasar ideologis ini tidak serta merta mewujudkan praktek yang identik pada tiap-tiap pemeluk Islam. Demikian halnya dengan praktek keagamaan kyai yang didasarkan atas ideologi Ahlussunnah wal jama'ah yang juga diklaim oleh mayoritas muslim dunia.
Namun demikian ada spesifikasi ideologi Ahlussunnah wal jama'ah yang dipraktekkan para kyai sebagaimana dikutip Dhofier dari pernyataan KH Bisyri Musthafa yang menyatakan bahwa paham Ahlussunnah wal jama'ah adalah paham yang berpegang teguh pada tradisi sebagai berikut :
1)      Dalam bidang hukum-hukum Islam Ahlussunnah wal jama'ah menganut ajaran-ajaran dari salah satu madzhab empat (baca : Maliki, Hanafi, Syafi’I dan hambali). Dalam praktek, para kyai adalah penganut kuat madzhab Syafi’i.
2)      Dalam bidang tauhid, Ahlussunnah wal jama'ah menganut ajaran-ajaran Imam Abu Hassan Al-Asyari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi.
3)      Dalam bidang tasawuf, Ahlussunnah wal jama'ah menganut dasar-dasar ajaran Imam Abu Qasim Al-Junaid.
Spesifikasi Ahlussunnah wal jama'ah dalam pandangan kyai merupakan pilihan yang sangat lentur dan sesuai dengan kondisi umat Islam Indonesia. Dasar ideologis yang lentur inilah yang memungkinkan kyai merespon perubahan-perubahan yang terjadi di sekelilingnya tanpa harus melenyapkan inti ajaran dan hakikat Islam itu sendiri.
Menurut Dhofier dalam menatap masa depan para kyai telah mengayunkan langkahnya melaju ke Indonesia masa depan lebih cepat. Para kyai melakukan perubahan dan menambah Ilmu pengetahuan modern di Lembaga-lembaga pesantrenya sejak tahun 1998. Tradisi pesantren sebagai penerus tradisi peradaban melayu nusantara memiliki dasar pemandangan keagamaan yang mudah dipadukan dengan modernitas. Cepatnya aspek modernitas terpadu dalam tradisi pesantren terbukti bahwa 70% lembaga pesantren telah mengemmbangkan sekolahan dan sebagian mendirikan perguruan tinggi modern.
Jadi dari karya tulis Zamakhsyari Dhofier dapat diambil kesimpulan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan pesantren dan islam yang dianut oleh para Kyai Indonesia dalam periode Indonesia modern tetap menunjukkan vitalitasnya sebagai kekuatan social, kultural, keagamaan dan aktif membangun kebudayaan Indonesia Modern.


[1] Abudin  nata.metodologi studi islam,jakarta( PT Rajagrafindo persada,2008)hlm.27
[2] Amin Abdullah, Urgensi Pendekatan Antropologi Untuk Studi Agama Dan Studi Islam, http://aminabd.wordpress.com/2011/01/14/urgensi-pendekatan-antropologi-untuk-studi-agama-dan-studi-islam/

Review Buku Tradisi Pesantren (Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya mengenai Masa Depan Indonesia) 4.5 5 Nurul Huda Sunday, May 1, 2016 Judul Buku     : Tradisi Pesantren ( Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya mengenai    Masa    Depan Indonesia ) Penulis      ...


No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.
J-Theme